DOA YANG MANDUL - DOA YANG KABUL

on Kamis, 12 Agustus 2010
From: A. Gianto


INJIL MINGGU 24 OKTOBER 2004 (Luk 18:9-14)

DOA YANG MANDUL - DOA YANG KABUL


Rekan-rekan yang baik!

Apa yang hendak diajarkan Yesus dengan perumpamaan mengenai orang Farisi dan
pemungut cukai dalam Luk 18:9-14 (Minggu Biasa XXX tahun C) ini? Pada awal
petikan ini disebutkan bahwa Yesus menyampaikan perumpamaan itu kepada
beberapa orang yang "menganggap diri benar" serta "memandang rendah semua
orang lain". Ada imbauan agar orang berani meninjau kembali gambaran tentang
diri sendiri dan tentang sesama yang mewarnai hubungan dengan Tuhan, yang
menentukan cara berdoa.

ORANG FARISI DAN PEMUNGUT CUKAI

Kedua tokoh dalam perumpamaan itu diceritakan sama-sama naik menuju ke Bait
Allah "untuk berdoa", untuk menghadap Yang Mahakuasa dan membuka diri
kepadaNya, bercerita kepadaNya, menyampaikan uneg-uneg kepadaNya. Satu hal
sudah dapat kita peroleh dari kisah perumpamaan ini. Dia yang diam di tempat
tinggi itu dapat didatangi. Dia ada di sana dan siap mendengarkan. Giliran
bagi yang datang: apa yang dibawakan kepadaNya itu sepadan dengan
perhatianNya?

Marilah kita amati gerak-gerik orang Farisi itu. Ia memasuki Bait Allah
dengan percaya diri dan penuh perhitungan. Dikatakan dalam ayat 11, ia
"berdiri dan berdoa dalam hatinya". Dalam bahasa aslinya, maksudnya, ia
"berhenti" di jalan masuk ke Bait Allah sambil merencanakan apa yang akan
dikatakannya dalam doanya nanti. Disusunnya pokok-pokok yang nanti
didoakannya. Kata-kata yang disebut dalam ayat 11-12 sebetulnya belum
sungguh diucapkannya sebagai doa. Baru "sketsa"-nya dalam pikirannya walau
sudah jelas ke mana arahnya. Ia bermaksud mengucap terima kasih kepada Yang
Mahakuasa karena ia tidak bernasib sama dengan kaum pendosa. Ia merasa
mendapat perlakuan istimewa dariNya sehingga tidak perlu menjadi perampok,
penjahat, orang yang tak punya loyalitas, apalagi - boleh jadi sambil
mengingat orang yang tadi dilihatnya - tidak seperti pemungkut cukai yang
mengkhianati bangsa sendiri dengan memeras bagi penguasa asing. Dalam
doanya nanti ia juga bermaksud mengingatkan Tuhan bahwa ia berpuasa dua kali
seminggu dan mengamalkan bagiNya sepersepuluh dari semua penghasilannya. Ia
merasa telah memenuhi semua kewajibannya. Semua beres. Dan doa yang akan
disampaikan nanti pasti akan menjadi doa yang meyakinkan Tuhan pula! Begitu
pikirnya.

Bagaimana dengan si pemungkut cukai? Ia "berdiri jauh-jauh". Ia juga
berhenti, tapi berjauhan dari tempat orang Farisi tadi. Ia merasa tak pantas
berada dekat dengan orang saleh itu. Apalagi mendekat ke Tuhan sendiri.
Apakah ia juga mau merencanakan suatu doa? Sulit, ia bahkan tidak berani
memandang ke atas. Gagasan menghadap Yang Mahakuasa membuatnya gentar. Tidak
seperti orang Farisi yang penuh kepercayaan diri itu. Meskipun merasa butuh
menghadap ke Bait Allah, pemungkut cukai itu tidak menemukan apa yang bisa
disampaikannya nanti di sana. Ia tak punya apa-apa kecuali perasaan sebagai
pendosa. Ia hanya minta dikasihani - ia yang pendosa itu.

Menurut sang Guru, pemungkut cukai tadi pulang ke rumahnya sebagai orang
yang dibenarkan Tuhan dan bukan orang Farisi itu. Mengapa? Kiranya pemungkut
cukai tadi telah benar-benar berseru kepada Tuhan dan Ia menjawab. Dalam
seruannya ia menyediakan dirinya sebagai penerima belaskasihanNya. Tidak
demikian dengan orang Farisi tadi. Kemasan doa yang disiapkannya itu sarat
dengan "aku..., aku..., aku....". Dirinya sendirilah yang menjadi pokok
doanya. Tuhan semakin tidak mendapat tempat. Doanya mandul karena terlalu
penuh dengan dirinya sendiri. Doa pemungkut cukai itu kabul karena
membiarkan diri dipenuhi belaskasihan dari atas. Pokok doanya ialah Tuhan
sendiri. Pembaca boleh ingat akan doa yang diajarkan Yesus sendiri. Doa Bapa
Kami dalam bahasa mana saja berpokok pada Bapa. Orang yang berdoa tidak
pernah menjadi pokok kalimat di mana pun dalam doa itu.

CATATAN LUKAS

Lukas memberi catatan ringkas yang besar artinya pada awal petikan ini.
Dikatakannya bahwa Yesus menyampaikan perumpamaan ini "kepada beberapa orang
yang menganggap diri benar dan merendahkan semua orang lain". Kiranya di
kalangan umat pengarang Injil itu ada sekelompok orang yang yakin bahwa
dengan menjalani serangkai tindakan kesalehan, mereka boleh merasa aman dan
dekat kepada Tuhan. Tentu saja mereka ini bukan sekadar berpura-pura. Namun
lambat laut timbul anggapan di antara mereka bahwa orang-orang lain jauh
dari perkenan Tuhan. Orang-orang itu dianggap patut dijauhi. Mereka semakin
tidak diterima sebagai sesama. Pendapat ini menjadi cara mengadili orang
lain, menjadi cara memojokkan orang yang tidak disukai. dan menjatuhkan
hukuman sosial. Sulitnya kerapkali yang dicap demikian juga sudah pasrah
menerimanya. Mereka merasa diri patut disingkiri. Syukurlah di dalam umat
itu masih ada orang-orang yang mampu dan berani memikirkan apa hal ini boleh
dibiarkan terus. Apa kehidupan itu ya harus seperti itu? Apa Yang Mahakuasa
juga memperlakukan orang demikian? Mereka mencoba menerapkan bagaimana sikap
Yesus Guru mereka dulu dalam menghadapi keadaan ini. Di situ terlihat
ingatan akan Yesus dan ajarannya bukan hanya kenangan belaka melainkan Roh
yang hidup dan mendewasakan batin. Inilah suara hati yang makin bersatu
dengan Roh Kristus yang hidup dalam batin orang, juga pada zaman ini.

Pada akhir perumpamaan itu Lukas juga masih menyertakan perkataan Yesus,
"...siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja
yang merendahkan diri akan ditinggikan" (ayat 14). Kata-kata ini sudah
pernah muncul dalam Luk 14:11. Di sana diterapkan kepada keinginan orang
untuk mendapatkan kehormatan di mata orang. Sekarang dalam perumpamaan orang
Farisi dan pemungkut cukai ini, kata-kata tadi diterapkan kepada orang yang
mau meninggikan diri di hadapan Tuhan. Orang yang mencari kebesaran diri di
mata orang banyak dan di hadirat Tuhan akan mengalami kekecewaan karena
kenyataannya nanti jauh berbeda. Penghargaan yang mereka rasakan itu semu,
tak bertahan lama karena mereka akan digeser kalau ada orang lebih penting
datang, atau keliru samasekali karena Tuhan tidak terkesan oleh omongan
mengenai persembahan persepuluhan, mengenai puasa dua kali seminggu, apalagi
oleh kecongkakan batin yang merendahkan orang lain.

IKUT MEMBAWAKAN KABAR GEMBIRA

Disarankan dalam ulasan mengenai orang yang berebut tempat terhormat di mata
orang banyak (Luk 14:1.7-14) bahwa para murid diminta ikut mengusahakan
tempat terhormat bagi sebanyak mungkin orang sehingga tidak hanya satu orang
saja yang akan mendapatkannya. Perumpamaan itu tidak dimaksud untuk mencela
keinginan mendapatkan tempat yang terhormat. Yang mau diajarkan ialah agar
para murid tak tinggal diam melihat orang berebut tempat paling terpandang.
Semestinyalah mereka mencarikan tempat terhormat bagi tiap orang karena bagi
tiap orang ada tempat yang terhormat. Bagaimana dengan perumpamaan orang
Farisi yang mau mendapatkan kehormatan di mata Tuhan dengan merendahkan
orang lain? Orang Farisi ini hanya melihat satu jalan saja mendapatkan
perkenan dari atas. Ia sebetulnya membatasi kemerdekaan Tuhan. Para murid
dan orang banyak sudah tahu sikap itu bukan sikap yang terpuji. Walaupun
demikian perumpamaan ini bukanlah perumpamaan untuk mencela belaka, atau
perumpamaan untuk mengukur doa mana yang betul doa mana yang kurang baik.
Lalu? Yesus hendak mengajak berpikir bagaimana orang dapat sungguh mendapat
perkenan Tuhan dan menjadi tinggi di dalam pandanganNya, bukan besar di mata
sendiri atau di muka manusia.

Digambarkan dalam perumpamaan ini doa yang kabul dan doa yang mandul, doa
yang tidak bisa didoakan dengan sungguh. Apa yang mesti dikerjakan murid
melihat ini semua? Tentunya mereka diharapkan membantu orang-orang agar doa
bisa sungguh didoakan. Inventarisasi kebaikan diri sendiri bukan bahan doa
yang pantas disampaikan ke hadapan Tuhan. Masakan doa penuh dengan aku
begini aku begitu, aku bersih, tak seperti kaum penjahat itu! Jadi, doa
pemungut cukai itu doa yang lebih baik? Tidak disebutkan demikian. Yang
dikatakan, orang seperti pemungut cukai itu tadi pulang ke rumah dibenarkan.
Pemungkut cukai itu pun masih butuh belajar berdoa. Mengakui diri pendosa
satu hal, menjalankan hal yang mengatasi keterbatasan ini masih bisa
dikembangkan. Dan para murid diminta juga membantu orang-orang yang seperti
itu. Murid-murid diutus memberitahu mereka bahwa sikap mereka meminta
belaskasihan Tuhan itulah yang membuat hidup mereka berharga. Ini Kabar
Gembira buat mereka. Bila orang-orang ini dapat mengalami Kabar Gembira
lebih jauh, mereka pasti akan lebih berani mendekat kepada Dia yang
Maharahim itu. Banyak orang di masa kini dapat merasa apa itu hidup dalam
kedosaan, apa itu takut pada Tuhan, tetapi kurang melihat bahwa Ia juga
Tuhan yang penuh kerahiman. Dan murid-murid boleh merasa ikut bahagia
diajak mengajarkan kerahimanNya seperti Yesus sendiri pernah mengajarkannya
kepada orang banyak.

Salam hangat,

A. Gianto

0 komentar:

Poskan Komentar